Dulu gue pikir belajar itu ya harus duduk manis berjam-jam di depan meja, buku terbuka, kopi di samping. Kenyataannya, hidup gue beberapa tahun terakhir ini lebih banyak dihabiskan di terminal, bandara, dan kamar hotel yang kasurnya entah kenapa selalu bikin malas bangun. Jadi waktu gue memutuskan buat ambil kursus online dan belajar hal baru, pertanyaan pertama yang muncul bukan "materinya apa", tapi "kapan gue sempat belajarnya?"
Dari situ gue mulai bereksperimen dengan dua pendekatan yang bertolak belakang: sistem kebut semalam alias SKS, dan sistem nyicil sedikit-sedikit tiap hari. Hasilnya? Beda banget, dan gue mau cerita apa yang gue temukan.
Kebut Semalam: Cepat, Dramatis, tapi Cepat Lupa
Gue akui, belajar model kebut semalam itu menggoda. Apalagi buat orang yang jadwalnya berantakan kayak gue. Ada satu momen di mana gue harus menyelesaikan modul kursus sebelum deadline, dan gue baru ingat sehari sebelumnya. Langsung deh, gue duduk dari jam sembilan malam sampai jam tiga pagi, hafal semua materi, dan besoknya ikut ujian.
Hasil ujiannya lumayan. Tapi ada masalah besar yang baru gue sadari beberapa minggu kemudian: gue nggak ingat apa-apa. Materi yang gue hafal mati-matian itu menguap begitu saja. Waktu gue butuh menerapkan konsepnya di situasi nyata, otak gue blank.
Baca juga: Belajar Efektif: 7 Cara yang Benar-Benar Ngefek, Bukan Teori
Informasi selengkapnya bisa dibaca di gayclup.
Belajar itu bukan soal seberapa banyak yang masuk dalam satu malam, tapi seberapa lama yang masuk itu tinggal di kepala.
Ini pelajaran pertama yang gue dapat. Kebut semalam memang menyelamatkan gue dari deadline, tapi nggak menyelamatkan gue dari kebodohan jangka panjang. Ibaratnya, gue minum obat pereda sakit, bukan menyembuhkan penyakitnya.
Nyicil Tiap Hari: Pelan tapi Nempel
Setelah gagal total dengan cara pertama, gue coba pendekatan kedua. Gue bagi materi jadi potongan-potongan kecil, sekitar 20 sampai 30 menit per sesi. Nggak peduli di mana gue berada, entah di kereta, di ruang tunggu, atau di kasur hotel sebelum tidur, gue sempatkan belajar satu potongan.
Kedengarannya membosankan, dan jujur aja, awalnya memang membosankan. Nggak ada sensasi dramatis kayak belajar sampai subuh. Tapi setelah dua minggu, ada yang aneh: gue mulai ingat materi tanpa harus mengingat-ingat. Waktu gue baca ulang catatan lama, rasanya kayak "oh iya, ini kan yang kemarin gue pelajari". Nggak ada lagi rasa asing.
Kenapa cara ini lebih cocok buat yang sering traveling
Gue sadar, buat orang yang sering pindah tempat, konsistensi itu lebih gampang dicapai daripada durasi panjang. Kamu nggak butuh dua jam utuh yang susah didapat di tengah perjalanan. Kamu cuma butuh 20 menit yang bisa kamu curi dari mana saja. Nggak perlu ruang belajar khusus, nggak perlu suasana sempurna.
Ada satu trik yang gue pakai dan lumayan ngebantu: gue selalu bawa satu catatan kecil berisi tiga poin yang mau gue pelajari hari itu. Nggak lebih. Jadi otak gue nggak kewalahan, dan gue nggak punya alasan buat bilang "materinya kebanyakan, nanti aja".
Yang Nggak Ada di Buku Teks: Belajar Itu Soal Ritme, Bukan Ruang
Dari pengalaman ini, gue jadi percaya satu hal yang mungkin agak nyeleneh: tempat belajar itu overrated. Selama ini kita diajari bahwa belajar butuh kondisi ideal, ruangan tenang, meja rapi, dan waktu luang yang panjang. Padahal buat gue, justru kondisi yang nggak ideal itu yang melatih otak buat fokus.
Gue pernah belajar satu konsep akuntansi dasar sambil nunggu pesawat delay dua jam. Nggak ada meja, nggak ada kursi nyaman, cuma hp dan catatan kecil. Dan itu jadi salah satu sesi belajar paling efektif yang pernah gue alami. Mungkin karena waktunya terbatas, otak gue jadi lebih fokus.
Selain itu, gue juga belajar buat nggak terlalu perfeksionis. Dulu gue sering nunda belajar karena nunggu "waktu yang tepat". Sekarang, waktu yang tepat itu ya sekarang, selama ada 15 menit kosong. Nggak perlu nunggu suasana hati mendukung.
Jadi, Mana yang Gue Pilih?
Kalau kamu tanya sekarang, gue jelas milih nyicil tiap hari. Bukan karena kebut semalam itu sepenuhnya buruk, tapi karena hasilnya nggak bertahan lama. Kebut semalam itu kayak makan instan: cepat kenyang, cepat lapar lagi. Nyicil harian itu kayak masak sendiri: butuh usaha, tapi gizinya beneran masuk.
Tapi gue nggak munafik. Ada kalanya kebut semalam masih berguna, misalnya buat ujian yang sifatnya hafalan dan sekali pakai. Yang jadi masalah adalah kalau cara itu jadi kebiasaan. Karena belajar bukan soal lulus ujian, tapi soal jadi orang yang lebih paham.
Buat kamu yang hidupnya sering di jalan, saran gue simpel: jangan tunggu punya waktu luang panjang buat belajar. Mulai dari 20 menit hari ini, di mana pun kamu berada. Nggak usah muluk-muluk soal tempat dan suasana. Otak kamu lebih adaptif dari yang kamu kira, asal kamu mau konsisten.
Dan satu lagi, jangan terlalu keras sama diri sendiri kalau ada hari yang terlewat. Gue juga sering bolong. Yang penting besoknya balik lagi, bukan malah nyerah dan balik ke mode kebut semalam.